Breaking News

Sulit Air Bersih hingga Ancaman Abrasi, Begini Cerita Warga saat Ical Turun Reses

IMG 20261104 WA0018
Bagikan
Lihat Tersimpan

-Penulis: Yan | Editor: Nanang Sofyan-

KONAWE KEPULAUAN, PORTALWAWONII.COM – Bagi sebagian warga, mendapatkan air bersih masih menjadi persoalan yang harus dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika musim kemarau tiba, ketersediaan air semakin terbatas. Sementara bagi masyarakat pesisir, ancaman abrasi menghadirkan kekhawatiran tersendiri karena gelombang laut perlahan mengikis daratan dan semakin mendekati permukiman.

Cerita tentang kesulitan hidup itulah yang mengemuka ketika Kalbi Erdiyansyah menyambangi tiga desa di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), dalam agenda Reses Masa Sidang III pada Selasa, 3 November 2026.

IKLAN
Iklan Portal Wawonii Slot 1

Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, warga tidak hanya menyampaikan usulan pembangunan, tetapi juga menceritakan berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi.

Di Desa Wawo Indah, Kecamatan Wawonii Tengah, ketersediaan air bersih menjadi salah satu keluhan utama. Warga mengaku kesulitan memperoleh pasokan air yang memadai dan kerap tidak mengalir, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berdampak pada aktivitas perkebunan masyarakat.

Persoalan lainnya datang dari para petani yang berharap adanya pembangunan jalan usaha tani. Keterbatasan akses menuju kawasan perkebunan membuat warga kesulitan mengangkut hasil panen. Padahal, bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian, akses jalan merupakan kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas ekonomi.

Tak berhenti di situ, warga juga mengungkapkan persoalan penguasaan lahan pertanian yang berada dalam kawasan lahan transmigrasi. Mereka menduga terdapat lahan milik warga yang diserobot pihak tertentu, bahkan diperjualbelikan.

IKLAN
Iklan Portal Wawonii Slot 2
Foto Bersama Warga Ical Reses
Suasana akrab Kalbi Erdiyansyah bersama warga Desa Wawo Indah, Kecamatan Wawonii Tengeh. FOTO: Dok. Pribadi

Masyarakat meminta pemerintah melakukan penelusuran dan penertiban guna memberikan kepastian terhadap status serta batas penguasaan lahan, sehingga hak-hak warga transmigras tidak dirugikan.

Berbeda dengan Wawo Indah, masyarakat Desa Lamongupa Kecamatan Wawonii Tengah, disana wargs menghadapi persoalan yang tidak kalah mengkhawatirkan. Di desa pesisir ini, abrasi pantai yang terjadi selama beberapa tahun terakhir semakin mengancam kehidupan warga.

Gelombang laut terus mengikis garis pantai. Air laut bahkan mulai mendekati rumah penduduk dan mengancam keberadaan tempat pemakaman umum (TPU) yang berada di ujung desa.

Kekhawatiran warga tergambar dari permintaan mereka agar pemerintah segera membangun tanggul penahan ombak sebelum abrasi semakin meluas.

IMG 20261104 WA0016
Suasana dialog sedang berlangsung dalam agenda reses anggota dewan Konkep, Kalbi Erdiyansyah di Desa Lamongupa Kecamatan Wawonii Tengah. FOTO: Dok. Pribadi

“Kami sangat khawatir. Kalau tidak segera dibuatkan tanggul penahan ombak, rumah warga dan kuburan umum bisa hilang terseret air laut,” ungkap salah seorang warga.

Di tengah ancaman abrasi tersebut, masyarakat juga masih dihadapkan pada persoalan krisis air bersih yang melanda tiga dusun. Saat musim kemarau, warga kesulitan mendapatkan air layak konsumsi untuk memenuhi kebutuha sehari-hari.

Kepala Desa Lamongupa, Kansur, yang turut hadir dalam kegiatan reses tersebut, berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap berbagai persoalan yang disampaikan masyarakatnya. Ia berharap kebutuhan sarana dan prasarana yang mendesak dapat segera ditindaklanjuti melalui program pembangunan daerah.

IMG 20261104 WA0012
Fose bersama warga Desa Langara Iwawo Kecamatan Wawonii Barat saat reses Kalbi Erdiyansyah. FOTO: Dok. Pribadi

Sementara itu, di Desa Langara Iwawo, Kecamatan Wawonii Barat, warga menyampaikan kebutuhan pembangunan fasilitas sanitasi bagi masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir.

Penyediaan jamban atau fasilitas sanitasi layak dinilai penting agar masyarakat tidak lagi melakukan buang air besar sembarangan yang berpotensi mencemari lingkungan.

Selain sanitasi, warga juga mengusulkan peningkatan infrastruktur jalan lingkungan di Dusun II, pembangunan talud penahan tanah, serta rabat beton untuk memperlancar mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Reses dengan Dialog Santai, Warga Lebih Terbuka Bercerita

Tiga desa dengan persoalan berbeda tersebut menjadi bagian dari kunjungan reses Kalbi Erdiyansyah, anggota DPRD Konkep dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga menjabat Ketua Komisi III DPRD Konkep.

Politisi yang akrab disapa Ical itu mengatakan, turun langsung menemui masyarakat bukan sekadar menjalankan kewajiban formal sebagai wakil rakyat. Baginya, reses merupakan kesempatan untuk melihat lebih dekat kondisi masyarakat sekaligus mendengar persoalan yang benar-benar mereka hadapi.

Karena itu, Ical memilih membangun suasana pertemuan yang santai dan penuh keakraban. Ia ingin masyarakat merasa nyaman menyampaikan keluhan tanpa harus terbebani suasana formal.

“Begitulah cara saya ketika bertemu langsung dengan masyarakat saat turun reses. Kegiatan ini memang resmi, tetapi jangan terlalu kaku. Sebagian warga terkadang segan berbicara kalau suasananya terlalu formal. Jadi, kita berdialog seperti sedang bercerita santai, yang penting poin-poin aspirasinya bisa tersampaikan,” kata Ical.

Baca juga: Rapat Kerja Komisi III DPRD Konkep Bersama Dinas Kesehatan – Setahun Rampung, Dewan Soroti Gedung Labkesda yang Belum Difungsikan

Jadwal Hari Ini Dokter RSUD Konawe Kepulauan untuk Pelayanan Poliklinik

Menurutnya, berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat dari ketiga desa tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah persoalan ketersediaan air bersih. Sebab, air merupakan kebutuhan vital masyarakat yang harus mendapatkan perhatian dalam perencanaan pembangunan daerah.

Ical menegaskan akan mengawal berbagai aspirasi tersebut agar dapat disampaikan kepada pemerintah daerah dan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program serta penganggaran melalui APBD tahun berikutnya.

“Saya akan kawal aspirasi ini untuk dibawa kepada pemerintah daerah dalam pembahasan APBD tahun berikutnya agar bisa masuk dalam perencanaan penganggaran. Insya Allah,” ujarnya.

Menanti Aspirasi Menjadi Kenyataan

Dari Wawo Indah, Lamongupa hingga Langara Iwawo, masyarakat telah menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka.

Ada warga yang berharap air bersih bisa tersedia dengan layak, petani yang menginginkan akses jalan menuju kebun, masyarakat pesisir yang membutuhkan perlindungan dari abrasi, hingga warga yang mendambakan fasilitas sanitasi dan lingkungan yang lebih baik.

Bagi mereka, persoalan tersebut bukan sekadar daftar usulan pembangunan. Ada kebutuhan keluarga, sumber penghidupan, keselamatan permukiman, dan kenyamanan hidup yang dipertaruhkan.

Kini, berbagai aspirasi itu telah disampaikan kepada wakil rakyat melalui agenda reses. Masyarakat berharap catatan tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi pertemuan, tetapi benar-benar diperjuangkan hingga masuk dalam perencanaan dan direalisasikan oleh pemerintah daerah.

Sebab, bagi warga, pembangunan yang paling berarti bukan hanya yang terlihat megah, melainkan yang mampu menjawab kesulitan mereka dan menghadirkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis

Redaksi

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *